
Namanya Dokter Refandi
“Dok, sudah disini,” saya mengirim pesan WA kepada dokter Refandi pada Rabu,3/12/2025. Hanya jeda beberapa detik, langsung muncul jawabannya. “Masuk saja ibu, kemudian naik ke lantai 2,” begitu bunyi balasannya. Saya mengikuti instruksinya, masuk ke dalam Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI (FKUI). Di dalam, ada dua orang laki-laki berseragam biru terang sedang berberes barang. Mereka menanyakan maksud saya kesini dan saya jawab hendak bertemu Dokter Refandi di Divisi Rheumatologi. Salah satu dari laki-laki itu menjelaskan kepada saya dimana letak ruang Divisi Rheumatologi.
Usai menitipkan stroller bayi (saya membawa anak), saya berjalan menaiki tangga dan tibalah di sebuah ruang berpintu yang pada dinding sebelah pintunya tertempel plakat Rheumatologi. Saya ketuk pelan sambil mendorong pintu. Seorang laki-laki muda, tinggi dan berkemeja lengan pendek motif kotak-kotak putih biru muncul dan segera menghampiri saya. Dia-lah Dokter Refandi, dokter yang mengurusi hal ihwal “perkartuan” Disabilitas Taktampak untuk para penyandang autoimun alias odai.
Dokter Refandi merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (FK Unpad) dan masih tergolong fresh graduate (belum lama lulusnya). “Saya baru mulai (mengurus hal ihwal KDT) awal November 2025, kata dokter berusia 24 tahun ini. Ia meneruskan tongkat estafet dari admin sebelumnya. Meskipun baru, diakui selama melakoni posisi ini – dia tidak mengalami kesulitan atau kendala yang berarti..
Foto yang Jelas
Didorong rasa penasaran, saya bertanya kepadanya mengenai seberapa banyak KDT yang sudah diterbitkan? “Kalau (KDT) yang sudah diambil itu sebanyak 245 kartu. Tapi masih ada (yang sudah daftar dan di-acc) belum diambil,” katanya. Percakapan sempat terjeda karena ada seorang perempuan masuk ke dalam ruang yang sama dimana wawancara ini dilakukan. Rupanya perempuan ini hendak mengambil KDT-nya. Dia mengisi lembar pengambilan KDT lalu pamit usai menerima KDT-nya.
Berkaitan dengan pengambilan KDT ini, dikatakan oleh Dok Refandi – bisa diwakilkan. Dengan catatan, pengambilannya dikoordinir melalui komunitas-komunitas autoimun dimana odai tersebut bergabung. Misalnya (salah satunya) melalui Komunitas Tulus (Komodai), dan komunitas autoimun lainnya. Menariknya, meski diluncurkan di Jakarta – odai yang mendaftar untuk mendapatkan KDT juga ada yang berasal dari luar Jabodetabek. “Kemarin tuh baru ada yang ngambil dari NTT. Banyak juga dari Semarang, Solo, Purwokerto, dan lain-lain,” info dokter bersuia 24 tahun ini.
Walau odai pendaftar KDT banyak, sebenarnya untuk memperoleh kartu lanyard-nya tidak membutuhkan waktu yang lama. “Kartu lanyard sudah ada, yang perlu dicetak adalah kartu ID-nya karena ada nomor ID-nya (odai yang mendaftar),” terangnya. Kartu lanyard adalah kartu berlogo bunga matahari dan ada tulisan Disabilitas Taktampak.
Selanjutnya yang harus diperhatikan ialah saat mengisi form KDT. Paling sering, dirinya menemui kendala seperti fotonya (yang menerangkan bahwa individu pendaftar menyandang autoimun) tidak jelas atau yang dilampirkan bukan kartu berobat. “Harus sesuai dengan syarat rematik autoimun dan pada surat keterangan atau kartu berobat ada diagnosis dari DPJP-nya,” jelas Dok Refandi.
Apa saja yang termasuk penyakit rematik autoimun yang bisa mendapatkan KDT? Jika dihitung, total ada 14 penyakit autoimun yang bisa mendaftarkan diri dan mendapatkan KDT, misalnya SLE (lupus), RA (Rhematoid Arhritis), penyakit sjogren, scleroderma, dan lain-lain. Di luar diagnosis dari kriteria 14 penyakit itu maka masuk ke dalam poin nomor 15 yakni penyakit lainnya di bidang reumatologi dan untuk ini harus ada semacam penialain dulu – apakah nantinya di-acc atau tidak bisa mendapatkan KDT.
Apabila semua persyaratan sudah dipenuhi maka dilakukan proses verifikasi. Lama atau tidaknya proses tersebut tergantung pada banyaknya antrian yang masuk (yang mendaftar KDT). “(Tapi) proses dominannya 1-2 minggu dan ini sudah termasuk terbit kartu lanyard-nya,” katanya. Iseng saya bertanya, apakah pernah salah cetak terkait penerbitan kartu-kartu disabilitas taktampak? Sambil tersenyum dia menjawab tidak.
Ketika ditanya sampai kapan KDT ini bisa diterbitkan, Alumni FK Unpad ini menjawab masih belum tahu. Yang jelas advokasi mengenai KDT terus dilakukan. “Kalau untuk ini nanti bisa ditanyakan lebih jelas ke dok Faisal (dr. Faisal Parlindungan, SpPD, KR yang menjadi Penanggungjawab Disabiltas Taktampak odai),” sarannya sekaligus menutup perbincangan.

Leave a Comment