Dari Olahraga Hingga Jarang Flare, Dari Tanpa Nyeri Hingga Remisi: Inilah Sehat Versi Tiga Odai!

Ilustrasi Hari Kesehatan Nasional ke-61| Ist
Setiap tanggal 12 November selalu diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Pada 2025, HKN memasuki peringatan yang ke-61 tahun. Dikutip dari laman kantor berita antara (https://www.antaranews.com/berita/5236921/hari-kesehatan-nasional-2025-tema-dan-makna-peringatannya) tema HKN tahun 2025 ini adalah “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat.” Masih dikutip dari sumber yang sama, penetapan tema ini dipilih untuk menekankan bahwa aset paling berharga suatu bangsa adalah kesehatan generasinya, terutama generasi muda yang kelak menjadi pilar dan penggerak menuju Indonesia Emas 2045. Kesehatan di sini tidak hanya diartikan sebagai kondisi bebas dari penyakit, tetapi juga sebagai fondasi utama untuk tumbuh, belajar, berkreasi, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI/kbbi.co.id/arti-kata/sehat), terdapat beberapa versi definisi kata sehat. Pertama, baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit); kedua, mendatangkan kebaikan pada bada; ketiga, sembuh dari sakit; keempat, baik dan normal (tentang pikiran); kelima, boleh dipercaya atau masuk akal (tentang pendapat, usul, alasan, dan sebagainya); keenam, berjalan dengan baik atau sebagaimana mestinya (tentang keadaan keuangan, ekonomi, dan sebagainya); ketujuh, dijalankan dengan hati-hati dan baik-baik (tentang politik, dan sebagainya). Lantas bagaimana definisi “sehat untuk orang dengan/ penyandang penyakit autoimun (odai)?

Umum sudah mengetahui bahwa, penyakit autoimun merupakan penyakit kronis yang bisa timbul hilang dan berlangsung seumur hidup. Meski demikian, tidak dosa dan tidak salah jika seorang penyandang autoimun (odai) juga memiliki harapan atau target untuk sehat, bahkan suatu keharusan. Bagaimana sehat versi odai ini? Saya mewawancarai tiga orang odai berbeda kondisi dan penyakit autoimunnya. Semua wawancara ini dilakukan melalui pesan WA dalam waktu yang berbeda namun berdekatan. Ada yang mendefinisikan sehat sebagai jarang flare, tidak mengalami nyeri-nyeri, no negative thinking, dan lain-lain.

Dulu dan Sekarang: Sehat Tetap Prioritas!
“Sehat jasmani, sehat mental pikiran,” jawab Isti Latifah ketika ditanya mengenai makna sehat menurutnya secara umum. Isti yang didiagnosis penyakit autoimun lupus (SLE) pada 2019 ini mengatakan bahwa sehat dan menjaga kesehatan selalu menjadi prioritas hidupnya selama ini. Namun diakuinya antara dulu dan sekarang telah terjadi perubahan prioritas tujuan menjaga kesehatan.

Dikatakannya kalau dulu sebelum berstatus sebagai odapus (orang penyandang lupus), ia sangat menjaga kesehatan dilatarbelakangi dirinya yang masuk dalam dunia kerja alias bekerja. Bila sakit saat itu, ia akan segera meminum ramuan herbal seperti jamu atau obat-obatan yang berbasis herbal. Pilihan itu dipilih olehnya agar penyembuhan lebih cepat membaik sehingga dapat segera melakukan aktivitas kembali (bekerja).

Sedangkan sekarang, sesudah menjadi odai atau odapus, prioritas menjaga kesehatan yakni agar kondisi autoimunnya tidak lebih cepat flare atau kambuh (baca: sering kambuh). Ia mencontohkan beberapa usaha yang dilakukan untuk menjaga kestabilan autoimunnya, antara lain dengan jadwal rutin minum obat, kontrol (rutin ke dokter) dan sedikit olahraga ringan untuk (menjaga) kesehatan organ lainnya. Selama ini, Isti rutin kontrol ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta Pusat. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya di Bekasi Timur, tetap ia jalani demi mencapai sehat.

Selain itu, secara perlahan ia memperbaiki pola atau gaya hidupnya. “Karena dulu saat masuk dunia kerja jarang berolahraga dan makan makanan yang tidak sehat/junk food,” beber odapus 28 tahun ini.

Diakuinya, meski memiliki target untuk sehat – tak serta merta mulus-mulus saja perjalanan untuk mencapai sehat versinya itu. Salah satu kendalanya ialah terkait dengan kondisi finasial (keuangan). “Untuk kendala, selama menjadi odai tidak memiliki finansial sendiri untuk pengobatan karena badan sudah terasa tidak kuat lagi untuk melakukan pekerjaan yang telah diberikan sebelumnya dan (sehingga) hanya mengandalkan keluarga),” jelasnya melalui pesan WA beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, dirinya tetap memiliki semangat optimis menjalani tahun demi tahun untuk pengobatan lupusnya yang sekarang telah memasuki tahun keenam. “Jangan stress, jangan banyak pikiran, dan selalu jaga kesehatan tubuh kita,” pesannya kepada teman-teman sesama odai.

Sehat Lahir Batin, Remisi, dan Tidak Ada Kekhawatiran
Selama 13 tahun menjadi odai membuat Sigit (bukan nama sebenarnya) punya waktu yang cukup untuk memaknai sehat sebagai orang dengan/penyandang autoimun. “Sehat lahir batin, tidak ada rasa sakit yang dirasa yaitu remisi tanpa penyakit lain, dan tidak ada kekhawatiran berlebihan yang dirasa,” jawabnya ketika ditanya mengenai makna sehat versinya. Poin tidak ada kekhawatiran berlebihan ini secara khusus tertuju pada overthinking IBD yang dialaminya. Mengutip laman Harvard Health Publishing (https://www.health.harvard.edu/topics/Irritable-Bowel-Syndrome) IBD atau lebih sering dikenal sebagai IBS Adalah gangguan gastrointestinal umum yang mempengaruhi hingga 15% populasi Amrika Serikat. Gejala umumnya meliputi nyeri perut, kram, diare, konstipasi, gas, dan kembung. Hidup dengan kondisi seperti ini, dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan.

“Dulu sehat itu tak sakit apapun. Sekarang saya sakit. Tidak merasakan sakit saja udah syukur. Termasuk ketenangan batin,” ia menjelaskan lebih detail mengenai makna sehat bagi dirinya. Sedangkan terkait usaha yang dilakukannya untuk mencapai sehat tersebut antara lain dengan minum obat teratur, mengupayakan gaya hidup sehat, dan check up ke dokter secara teratur. Hanya saja kendalanya, ia masih kesulitan untuk menyeimbangkan antara kesehatan dan pekerjaan.

Terkait HKN, ia sedikit berpesan, khususnya untuk sesama penyandang autoimun bahwa Anda tidak sendirian. “Anda kelihatan sehat tetapi sakit. Jika Anda sering diabaikan dan merasa tidak perlu diperhatikam, Anda tidak sendirian,” pesan lelaki 39 tahun ini. Lebih lanjut, Siko mengatakan bahwa banyak odai dianggap orang sehat, padahal sedang menahan sakit, banyak yang mengira sakit itu harus demam, padahal tidak selalu itu.

Sehat: No Negative Thinking!
Buat Ririn, tidak ada perubahan makna sehat baik sebelum berstatus odai ataupun setelah berstatus odai? Kenapa? Perempuan 50 tahun ini bercerita bahwa semenjak kecil, dirinya sudah sakit-sakitan dan saat kuliah terdiagnosis Thalassemia minor, lalu setelah menua terdiagnosis autoimun. “Bedanya hanya dalam memaknai hidup dan setelah menjadi odai lebih memperhatikan asupan makanan. Untuk psikis nggak terlalu terguncang. Masih bisa positive thinking dan alhamdulillah punya support system yang baik dari keluarga inti maupun keluarga besar dan rekan kerja,” bebernya.

Ririn didiagnosis autoimun kurang lebih 3 tahun yang lalu (Desember 2022). “Awalnya APS, sekarang jadi APL, Februari 2023 tegak Spondiloarthritis dan Agustus 2025 tegak IBD Chrons Disease,” jawabnya sambil mengurutkan sesuai waktu jenis-jenis autoimunnya.

Meski tidak ada perubahan makna sehat (lantaran sejak kecil telah sakit-sakitan), dirinya punya definisi sehat versi pribadi dan ini yang menjadi pegangan kesehariannya yakni sehat dimaknai sebagai keadaan psikis dan badan dalam kondisi baik, tidak ada keluhan sakit, perasaan hati senang, dan terbebas dari pikiran negatif atau no negative thinking. Untuk mewujudkan definisi sehatnya tersebut, ia mencoba menerapkan LDHS (Lima Dasar Hidup Sehat), lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mencoba berolahraga walau untuk ini masih on-off.

“Kendalanya lebih ke masalah olahraga karena merasa tidak ada waktu. Tapi mungkin hanya alasan,” katanya mengakui. Aktivitasnya sendiri tergolong padat. Ririn yang berdomisili di Cisauk, Tangerang ini mengatakan pada pagi sampai siang dirinya menjadi terapis untuk anak berkebutuhan khusus di sebuah klinik tumbuh kembang di daerah Alam Sutera dan sore sampai malam, mengajar mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) di dekat rumahnya.

Ia berpesan kepada teman-teman sesama odai bahwa boleh sedih, boleh kecewa dengan diagnosis yang ada tapi cepat bangkit lagi. “Harus selalu semangat untuk rutin berobat karena kesembuhan atau remisi itu nyata. Apalagi bagi odai yang sudah punya anak selalu ingatlah bahwa ibu adalah dunia bagi anak-anaknya jadi ibu harus sehat demi kenyamanan diri sendiri dan anak-anak,” katanya mengingatkan.

Post navigation

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *