Serunya Workshop Mindful Drawing: Menggambar Suka-suka yang Bikin Hati Bahagia

Gisella Tani Pratiwi (fasilitator Workshop Mindful Drawing) sedang mempresentasikan materi workshop pada Sabtu, 13/12/2025 ! Dok. DTS
Sebanyak 19 orang berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Sabtu, 13/12/2025. Tepatnya di Aula Akademi Jakarta Lantai 14 Gedung Ali Sadikin TIM, Cikini, Jakarta Pusat. Mereka adalah penyadang penyakit kronis, ada yang menyandang penyakit autoimun, kanker, dan lain-lain. Meski berbeda-beda penyakit kronisnya, tujuan mereka semua sama dan satu, yakni mengikuti Workshop Mindful Drawing! Seharusnya acara dimulai pada pukul 13.00 WIB. Namun agak sedikit molor. Meskipun demikian, para peserta workshop tetap bersemangat untuk mengikutinya.

Acara yang diinisiasi oleh Dokter Tanpa Stigma (DTS) dan Inspirasien ini secara resmi bernama Workshop Mindful Drawing: Menemukan Keberdayaan bagi Penyintas Penyakit Kronis. “(Workshop) untuk memberikan alternatif self-care pengolahan diri secara psikologis kepada para penyintas penyakit kronis sehingga meningkatkan keberdayaan mereka,” kata Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog yang juga merupakan fasilitator workshop. Selama pelaksanaan workshop, Gisella dibantu oleh beberapa co-fasilitator.

Mengenal Art Therapy dan Jalannya Workshop
Sebelum melakukan mindful drawing atau sesi inti, para peserta workshop diajak untuk lebih dulu mengenali bagaimana perasaannya hari ini dan saat ini.

Dilanjutkan dengan penjelasan seputar Art Therapy. Apa itu Art Therapy? Yaitu bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni visual (melukis, menggambar, memahat, dan lain-lain) dalam hubungan terapeutik untuk membantu individu mengeksplorasi emosi, mengurangi stress, meningkatkan kesadaran diri, memproses masalah kesehatan mental, dan menemukan keberdayaan diri.

Kegiatan terapi seni tidak perlu bakat seni karena fokusnya pada proses kreatif dan ekspresi diri di bawah bimbingan profesional. “Terapi ini bermanfaat untuk segala usia,” terang Gisella saat sesi pemaparan materi workshop.

Setelah sesi pemaparan, fasilitator membimbing seluruh peserta workshop untuk melakukan latihan bernafas berkesadaran dan meditasi singkat dengan merasakan tubuh. Ruangan berukuran luas sekitar 45 meter persegi itu mendadak menjadi hening, hanya sesekali terdengar suara dari fasilitator untuk membimbing para peserta. Usai meditasi, langsung diarahkan untuk menggambar secara bebas berdasarkan insight dari meditasi singkat (mindful free drawing). Selama sesi mindful free drawing ini, terlihat seluruh peserta menikmati proses menggambarnya.

Masing-masing peserta menggambar bebas di kertas karton putih ukuran A5 yang disediakan oleh panitia workshop. Ada yang menggunakan pensil warna kayu, krayon, spidol atau cukup pensil untuk menuangkan insight dari hasil meditasi singkat sebelum menggambar. Ada juga peserta yang menyetel musik ringan melalui hp-nya untuk membantu dirinya rileks sekaligus fokus selama proses menggambar bebas. Raut wajah mereka selama sesi menggambar benar-benar fokus dan tidak ada yang mengobrol..

Sekitar 15-20 menit, para peserta workshop intens menarikan tangan mereka di atas kertas. Selanjutnya hasil kontemplasi menggambar bebas ini,di-sharing oleh masing-masing peserta. Untuk ini, panitia workshop membagi para peserta yang berjumlah 19 orang ke dalam kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-5 orang dengan satu orang co-fasilitator. Dalam kelompok kecil ini, masing-masing peserta diajak untuk berefleksi bagaimana dinamika atau perubahan perasaan, sensasi badan, dan pemikiran yang dirasakan oleh masing-masing peserta saat sebelum – selama – sesudah latihan (mindful drawing)?

Usai sharing dalam kelompok kecil, baru kemudian dalam kelompok besar atau workshop-nya. Disini, semua peserta diajak untuk berbagi cerita mengenai apa yang paling berkesan dalam sharing kelompok (kecil sebelumnya)? Dan apa pesan keberdayaan yang ingin masing-masing peserta sampaikan pada diri sendiri?

Menikmati dan Mengaplikasikan Sehari-hari

Foto bersama peserta Workshop Mindful Drawing dan Fasilitator sambil menunjukkan hasil gambar mereka (Sabtu, 13/12/2025) | Dok. DTS
“Excited banget! Karena kebetulan juga aku suka lampiaskan perasaan dengan gambar atau puisi,” kata Nuri, salah satu peserta Workshop Mindful Drawing. Meskipun jauh, Nuri yang penyandang autoimun jenis Sjogrens Syndrome (SS) dan IBD (Irritable Bowel Disease) ini sengaja bela-belain dari rumahnya yang di Ciledug, Tangerang ke Cikini, Jakarta Pusat menggunakan transportasi umum supaya bisa mengikuti workshop. Info mengenai workshop-nya sendiri didapatkannya melalui teman sesama pasien RSCM (tempat ia rawat jalan) dan grup WA penyandang autoimun.

Selama sesi mindful free drawing, terlihat Nuri sangat fokus. “Ya gimana ya. Saat gambar, aku nggak terlintas di otak tapi dari hati,” akunya. Nuri menggambar tangan, rantai dan bunga mawar yang mendeskripsikan perasaan dan emosi hatinya.

“Lebih ke sedih tapi menerima,” katanya. November 2024, dirinya baru didiagnosis autoimun sehingga sampai dengan saat ini masih menjalani proses menerima kondisi itu. Kabar baiknya, pasca mengikuti workshop – dirinya menjadi sedikit bisa mengelola hati.

Bahkan sampai saat ini, Nuri tetap mempraktekan mindful drawing dalam kesehariannya. “Kalau untuk Latihan nafas, terkadang kalau lagi ingat. Tapi kalau melukis lanjut,” katanya ketika ditanya via WA.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini dirinya bahkan sedang membuat mural. Bagi Nuri, membuat mural ini sebenarnya iseng saja. Tapi ia melakoninya karena suka. “Dari dulu memang suka bikin tiap tahun baru atau Indul Fitri untuk keponakan dan teman-teman, liburan sekolah juga selalu bikin,” Infonya.

Post navigation

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *